Bismillahirrahmanirrahim
Oleh : Handri Putrawan, S.PdI
Menjadi seorang yang berilmu adalah syarat mutlak untuk menjadi manusia yang paripurna, ilmu merupakan gerbang untuk mengenal Allah SWT. Dasar sebuah keilmuan jembatan yang harus dilalui setiap orang jika ingin mendapatkan suatu kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ketika sebuah niat yang baik tanpa dilandasi pengetahuan yang memadai tentang suatu kebaikan, maka alamat niat dan pekerjaan yang diinginkan tidak akan pernah tercapai, walapun didukung oleh orang-orang yang terkenal sekalipun.
Setiap zaman dan setiap abad sudah ditetapkan oleh Allah SWT, bahwa jejak seorang pahlawan dalam setiap kehidupan manusia telah dipersiapkan oleh Allah SWT. Dengan demikian kita sebagai manusia hanya bisa berharap dan mempersiapkan diri dengan ilmu dan akhlak yang baik guna mencari kriteria pahlawan yang telah ditetapkan Allah SWT, apakah kita ? atau kita sudah disalip oleh orang lain. Namun begitu jangan pernah berhenti berharap terhadap karunia dari Allah SWT, karena Allah SWT mempunyai rahasia tersendiri, yang terpenting adalah banyak-banyaklah mengambil Ibrah dan Hikmah dari setiap kejadian di alam ini.
Wallahu A’lam Bissawwab adalah ucapan yang selalu diucapkan oleh orang-orang yang memiliki disiplin ilmu yang sudah mantap dan luas, karena mereka mengetahui bahwa ilmu manusia adalah sedikit jika dibandingkan dengan Allah SWT, ibarat ilmu Allah SWT seperti air laut, dan ilmu manusia itu adalah setetes daripada air laut tersebut. Dan orang-orang muslim yang paling setia terhadap prinsip keilmuan tersebut, karena orang-orang islam menggunakan ilmunya sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Hadits dan demi kemaslahatan hidup manusia.
Wallahu A’lam Bissawwab……………!
Senin, 18 April 2011
DEFINISI YANG MENGUASAI
(Sebuah Kuasa Hegemoni Ilmu Pengetahuan)
Bismillahirrahmanirrahim
Dalam dunia Ilmu Pengetahuan telah dikenal istilah Definisi, Ta’rif, dan Pengertian, yang gunanya untuk membatasi ruang lingkup suatu permasalahan dalam ilmu pengetahuan. Pendefinisian mencakup perbincangan tentang masalah makna dan denotasi istilah-istilah yang berkenaan dengan suatu bidang ilmu. Cara seseorang dalam mendefinisikan terkait dengan cara membangun otoritas, artinya pembahasan suatu bidang ilmu haruslah tidak menyalahi aturan definisinya.
Definisi-definisi, tentu saja berubah setiap saat dan konsep-konsep suatu ilmu pengetahuan berbeda dengan pemahaman orang-orang dahulu dengan orang-orang sekarang, yang jelas orang-orang sekarang banyak yang merujuk kepada definisi-definisi yang dibuat oleh generasi pendahulunya, dengan demikian definisi sesungguhnya adalah produk dari sejarah dengan proses-proses yang secara kebudayaan bersifat khusus.
Dalam perbincangan ilmu pengetahuan, setiap komponen pendukung dari pengetahuan tersebut harus dibatsi dengan cara mendefinisikan setiap komponen tersebut, jika menyalahi aturan definisi maka ilmu tersebut akan keluar dari barometernya, maka apabila hasil spekulasi dari suatu pengetahuan jika masih dalam lingkup keilmiahan dapat diterima, begitu juga sebaliknya.
Pada pertumbuhan setiap ilmu pengetahuan, baik ilmu Filsafat sebagai bapaknya ilmu, sangat dipengaruhi oleh perkembangan definisinya, pada zaman dahulu semua ilmu pengetahuan sumbernya adalah ilmu filasafat, karena berkembangnya spekulasi dan definisi membuat berbagai bidang ilmu memisahkan diri dari filsafat, dengan demikian ilmu pengetahuan akan lebih berkembang apabila tingkat pendefinisian dan spekulasinya dikembangkan.
Intinya, pembatasan suatu bidang permasalahan yang akan dibahas dalam suatu ilmu pengetahuan mesti dan harus dilakukan, pembatasan itu harus dilakukan dengan pendefinisian permasalahan tersebut, sehingga arahnya dapat diprediksikan. Tentu saja setiap spekulasi yang muncul bila tidak masuk lingkup definisi akan dianggap spekulasi asal-asalan atau tidak ilmiah.
Wallahu A’lam Bissawwab
Oleh : Handri Putrawan, S.PdI
Bismillahirrahmanirrahim
Dalam dunia Ilmu Pengetahuan telah dikenal istilah Definisi, Ta’rif, dan Pengertian, yang gunanya untuk membatasi ruang lingkup suatu permasalahan dalam ilmu pengetahuan. Pendefinisian mencakup perbincangan tentang masalah makna dan denotasi istilah-istilah yang berkenaan dengan suatu bidang ilmu. Cara seseorang dalam mendefinisikan terkait dengan cara membangun otoritas, artinya pembahasan suatu bidang ilmu haruslah tidak menyalahi aturan definisinya.
Definisi-definisi, tentu saja berubah setiap saat dan konsep-konsep suatu ilmu pengetahuan berbeda dengan pemahaman orang-orang dahulu dengan orang-orang sekarang, yang jelas orang-orang sekarang banyak yang merujuk kepada definisi-definisi yang dibuat oleh generasi pendahulunya, dengan demikian definisi sesungguhnya adalah produk dari sejarah dengan proses-proses yang secara kebudayaan bersifat khusus.
Dalam perbincangan ilmu pengetahuan, setiap komponen pendukung dari pengetahuan tersebut harus dibatsi dengan cara mendefinisikan setiap komponen tersebut, jika menyalahi aturan definisi maka ilmu tersebut akan keluar dari barometernya, maka apabila hasil spekulasi dari suatu pengetahuan jika masih dalam lingkup keilmiahan dapat diterima, begitu juga sebaliknya.
Pada pertumbuhan setiap ilmu pengetahuan, baik ilmu Filsafat sebagai bapaknya ilmu, sangat dipengaruhi oleh perkembangan definisinya, pada zaman dahulu semua ilmu pengetahuan sumbernya adalah ilmu filasafat, karena berkembangnya spekulasi dan definisi membuat berbagai bidang ilmu memisahkan diri dari filsafat, dengan demikian ilmu pengetahuan akan lebih berkembang apabila tingkat pendefinisian dan spekulasinya dikembangkan.
Intinya, pembatasan suatu bidang permasalahan yang akan dibahas dalam suatu ilmu pengetahuan mesti dan harus dilakukan, pembatasan itu harus dilakukan dengan pendefinisian permasalahan tersebut, sehingga arahnya dapat diprediksikan. Tentu saja setiap spekulasi yang muncul bila tidak masuk lingkup definisi akan dianggap spekulasi asal-asalan atau tidak ilmiah.
Wallahu A’lam Bissawwab
Oleh : Handri Putrawan, S.PdI
PRINGGASELA DESA PEJUANG
OLEH : HANDRI PUTRAWAN, S.PdI
Selaksa keindahan bergelayut dalam hamparan……
Ketika Pelukis Agung menorehkan tinta emasnya……..
Bersama senandung keasrian bersemayam…..
Di Pringgasela ku tanamkan harapan………
Pringgasela-ku tenteram…….
Takkan pernah terlupa sepanjang masa……..
Tugu Mopra sebagai pertanda…………..
Saksi sejarah perjuangan bangsa…….
Putra putri Pringgasela bersemangat baja………
Pringgasela Desa-ku sayang…….
Tanah kelahiran pejuang gemilang……….
Said Saleh Abdullah telah dikenang………
Semasa sayap penjajahan terpentang………
Maju…………………………..!
Serbu………………………….!
Teriakan semangat menderu………………..
Walaupun nafas akan habis oleh meriam dan peluru………….
Walau tubuh akan binasa terbujur kaku………………..
Walau jantung berdetak memburu…………………
Merdeka……………………..!
Sekalipun hanya sebuah kata……………………….
Merdeka………………………!
Merdeka bangsa-ku……………………
Merdeka bangsa-ku……………………
Jayalah negeri-ku……………………….
Sejahteralah Pringgasela-ku………………………………
Selaksa keindahan bergelayut dalam hamparan……
Ketika Pelukis Agung menorehkan tinta emasnya……..
Bersama senandung keasrian bersemayam…..
Di Pringgasela ku tanamkan harapan………
Pringgasela-ku tenteram…….
Takkan pernah terlupa sepanjang masa……..
Tugu Mopra sebagai pertanda…………..
Saksi sejarah perjuangan bangsa…….
Putra putri Pringgasela bersemangat baja………
Pringgasela Desa-ku sayang…….
Tanah kelahiran pejuang gemilang……….
Said Saleh Abdullah telah dikenang………
Semasa sayap penjajahan terpentang………
Maju…………………………..!
Serbu………………………….!
Teriakan semangat menderu………………..
Walaupun nafas akan habis oleh meriam dan peluru………….
Walau tubuh akan binasa terbujur kaku………………..
Walau jantung berdetak memburu…………………
Merdeka……………………..!
Sekalipun hanya sebuah kata……………………….
Merdeka………………………!
Merdeka bangsa-ku……………………
Merdeka bangsa-ku……………………
Jayalah negeri-ku……………………….
Sejahteralah Pringgasela-ku………………………………
Rabu, 13 April 2011
PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI TAMAN PENDIDIKAN QUR’AN
(SEBUAH PENGANTAR)
“Secara umum, pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui pengalaman individu yang bersangkutan” (Asrori, 2008:6).
Pembelajaran merupakan suatu proses, artinya pembelajaran yang berhasil guna membutuhkan proses dalam pelaksanaannya, sebelum pelaksanaan pembelajaran diperlukan perencanaan, perencanaan disini dimaksudkan agar proses pembelajaran lebih terarah dan hasilnya akan lebih efektif.
Pembelajaran yang efektif terjadi bila semua komponen-komponen dalam pembelajaran tersebut mempunyai andil dalam membentuk karakter peserta didik, karakter disini adalah terbentuknya sikap posistif peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
“Pembelajaran berlangsung melalui lima alat dria kita, yaitu: Penglihatan (Visual): melihat kejadian sesuatu peristiwa. Pendengaran (Auditory): mendengar sesuatu bunyi. Pembauan (Olfactory): bau makanan membuat kita merasa lapar. Rasa atau Pengecap(Taste): lidah kita merasa dan dapat membedakan antara asin dan asam. Sentuhan: dapat membedakan antara permukaan licin dan permukaan kasar” (Asrori, 2008:6).
“Dalam proses pembelajaran tidak hanya melibatkan fakta atau konsep suatu bidang ilmu saja, tetapi juga melibatkan perasaan-perasaan yang berkaitan dengan emosi, kasih sayang, benci, hasrat dengki dan kerohanian. Pembelajaran tidak terbatas pada apa yang kita rancangkan saja, tetapi melibatkan pengalaman yang diluar kesadaran penuh kita, seperti peristiwa kemalangan atau seorang yang jatuh cinta pada pandangan pertama” (Asrori, 2008:6).
Untuk mencapai tuju an-tujuan yang telah ditentukan dalam pembelajaran digunakan berbagai strategi pembelajaran, pembelajaran merupakan kegiatan antara guru dan siswa, jika dilihat dari segi guru maka disebut pengajaran, tetapi dilihat dari segi siswa disebut belajar, dengan demikian pembelajaran disebut juga kegiatan Belajar-Mengajar (KBM).
Pembelajaran Bahasa Arab, digolongkan kepada proses belajar-mengajar Bahasa secara umum, ini berrati pembelajaran Bahasa Arab diperuntukkan untuk mata pelajaran Bahasa Arab, yang nota benenya bahasa asing. Konsekuensinya, pembelajaran Bahasa Arab harus mengacu kepada materi-materi yang berbahasa Arab guna menunjang tercapainya pembelajaran Bahasa Arab yang efektif.
Pembelajaran Bahasa Arab pada dasarnya sama dengan pembelajaran bahasa yang lain, hanya saja pembelajaran Bahasa Arab harus berdasarkan materi-materi yang menyangkut Bahasa Arab pada umumnya, adapun materi-materi pembelajaran Bahasa Arab secara garis besarnya terdiri dari sepuluh pembelajaran, antara lain :
1. Pengenalan Hurup-hurup Hijaiyah
2. Menulis Hurup-hurup Hijaiyah
3. Melafalkan Hurup-hurup Hijaiyah
4. Merangkai Hurup-hurup Hijaiyah
5. Pengenalan kata-kata Bahasa Arab
6. Merangkai kata-kata Bahasa Arab menjadi Kalimat yang
Balig(sesuai aturan Gramatikal Bahasa Arab)
7. Membaca (Qira’ah)
8. Imla’
9. Hiwar (percakapan)
10.Qawa’id (Nahwu, Sharef, Balaghah, dll).
Bahasa Arab adalah bagian dari kebudayaan bangsa Arab, konsekuensinya, dalam pembelajaran Bahasa Arab harus diperkenalkan budaya Bahasa Arab yang dianut oleh orang-orang Arab sendiri, seperti cara-cara mengucapkan kata-kata Arab oleh penutur aslinya. Sebab mengajarkan bahasa berarti juga mengajarkan budaya dari bahasa tersebut.
Pembelajaran Bahasa Arab pada tingkat dasar harus mengadopsi tingkat kemampuan peserta didik, hal ini dimaksudkan untuk kemudahan dalam menanamkan pengetahuan Bahasa Arab pada diri perserta didik, pembelajaran Bahasa Arab pada tingkat dasar meliputi lima keterampilan, antara lain :
1. Pengenalan Hurup-hurup Hijaiyah
2. Menulis Hurup-hurup Hijaiyah
3. Melafalkan Hurup-hurup Hijaiyah
4. Merangkai Hurup-hurup Hijaiyah
5. Pengenalan kata-kata Bahasa Arab
6. Membuat kalimat Bahasa Arab
Pembelajaran Bahasa Arab di TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) seyogianya harus mengacu kepada lima keterampilan dasar di atas, dan harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik dalam hal ini adalah santri-santri TPQ. Dalam pembelajaran Bahasa Arab di TPQ lebih diarahkan kepada peningkatan keterampilan membaca dan menulis Al-Qur’an.
Pembelajaran Bahasa Arab di TPQ harus memperhatikan konsep-konsep kurikulum, kurikulum dapat dilihat dalam tiga dimensi, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai rencana. Namun sejauh ini kurikulum Bahasa Arab pada lembaga LPTKA-BKPRMI belum dirumuskan secara spesifik, karena Bahasa Arab masih dimasukkan dalam Muatan Lokal yang pelaksanaannya harus memperhatikan pada daya dukung dari lembaga TPQ bersangkutan.
Tulisan ini dimaksudkan sebagai masukan bagi LPTKA-BKPRMI untuk menyusun kurikulum Bahasa Arab di TPQ, sebab akan sangat janggal sekali jika lembaga yang bergerak dalam pendidikan Al-Qur’an tidak memasukkan Bahasa Arab sebagai Mata Pelajaran Inti, pembelajaran Bahasa Arab seyogianya harus menjadi pendamping pembelajaran baca-tulis Al-Qur’an di TPQ.
“Secara umum, pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui pengalaman individu yang bersangkutan” (Asrori, 2008:6).
Pembelajaran merupakan suatu proses, artinya pembelajaran yang berhasil guna membutuhkan proses dalam pelaksanaannya, sebelum pelaksanaan pembelajaran diperlukan perencanaan, perencanaan disini dimaksudkan agar proses pembelajaran lebih terarah dan hasilnya akan lebih efektif.
Pembelajaran yang efektif terjadi bila semua komponen-komponen dalam pembelajaran tersebut mempunyai andil dalam membentuk karakter peserta didik, karakter disini adalah terbentuknya sikap posistif peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
“Pembelajaran berlangsung melalui lima alat dria kita, yaitu: Penglihatan (Visual): melihat kejadian sesuatu peristiwa. Pendengaran (Auditory): mendengar sesuatu bunyi. Pembauan (Olfactory): bau makanan membuat kita merasa lapar. Rasa atau Pengecap(Taste): lidah kita merasa dan dapat membedakan antara asin dan asam. Sentuhan: dapat membedakan antara permukaan licin dan permukaan kasar” (Asrori, 2008:6).
“Dalam proses pembelajaran tidak hanya melibatkan fakta atau konsep suatu bidang ilmu saja, tetapi juga melibatkan perasaan-perasaan yang berkaitan dengan emosi, kasih sayang, benci, hasrat dengki dan kerohanian. Pembelajaran tidak terbatas pada apa yang kita rancangkan saja, tetapi melibatkan pengalaman yang diluar kesadaran penuh kita, seperti peristiwa kemalangan atau seorang yang jatuh cinta pada pandangan pertama” (Asrori, 2008:6).
Untuk mencapai tuju an-tujuan yang telah ditentukan dalam pembelajaran digunakan berbagai strategi pembelajaran, pembelajaran merupakan kegiatan antara guru dan siswa, jika dilihat dari segi guru maka disebut pengajaran, tetapi dilihat dari segi siswa disebut belajar, dengan demikian pembelajaran disebut juga kegiatan Belajar-Mengajar (KBM).
Pembelajaran Bahasa Arab, digolongkan kepada proses belajar-mengajar Bahasa secara umum, ini berrati pembelajaran Bahasa Arab diperuntukkan untuk mata pelajaran Bahasa Arab, yang nota benenya bahasa asing. Konsekuensinya, pembelajaran Bahasa Arab harus mengacu kepada materi-materi yang berbahasa Arab guna menunjang tercapainya pembelajaran Bahasa Arab yang efektif.
Pembelajaran Bahasa Arab pada dasarnya sama dengan pembelajaran bahasa yang lain, hanya saja pembelajaran Bahasa Arab harus berdasarkan materi-materi yang menyangkut Bahasa Arab pada umumnya, adapun materi-materi pembelajaran Bahasa Arab secara garis besarnya terdiri dari sepuluh pembelajaran, antara lain :
1. Pengenalan Hurup-hurup Hijaiyah
2. Menulis Hurup-hurup Hijaiyah
3. Melafalkan Hurup-hurup Hijaiyah
4. Merangkai Hurup-hurup Hijaiyah
5. Pengenalan kata-kata Bahasa Arab
6. Merangkai kata-kata Bahasa Arab menjadi Kalimat yang
Balig(sesuai aturan Gramatikal Bahasa Arab)
7. Membaca (Qira’ah)
8. Imla’
9. Hiwar (percakapan)
10.Qawa’id (Nahwu, Sharef, Balaghah, dll).
Bahasa Arab adalah bagian dari kebudayaan bangsa Arab, konsekuensinya, dalam pembelajaran Bahasa Arab harus diperkenalkan budaya Bahasa Arab yang dianut oleh orang-orang Arab sendiri, seperti cara-cara mengucapkan kata-kata Arab oleh penutur aslinya. Sebab mengajarkan bahasa berarti juga mengajarkan budaya dari bahasa tersebut.
Pembelajaran Bahasa Arab pada tingkat dasar harus mengadopsi tingkat kemampuan peserta didik, hal ini dimaksudkan untuk kemudahan dalam menanamkan pengetahuan Bahasa Arab pada diri perserta didik, pembelajaran Bahasa Arab pada tingkat dasar meliputi lima keterampilan, antara lain :
1. Pengenalan Hurup-hurup Hijaiyah
2. Menulis Hurup-hurup Hijaiyah
3. Melafalkan Hurup-hurup Hijaiyah
4. Merangkai Hurup-hurup Hijaiyah
5. Pengenalan kata-kata Bahasa Arab
6. Membuat kalimat Bahasa Arab
Pembelajaran Bahasa Arab di TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) seyogianya harus mengacu kepada lima keterampilan dasar di atas, dan harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik dalam hal ini adalah santri-santri TPQ. Dalam pembelajaran Bahasa Arab di TPQ lebih diarahkan kepada peningkatan keterampilan membaca dan menulis Al-Qur’an.
Pembelajaran Bahasa Arab di TPQ harus memperhatikan konsep-konsep kurikulum, kurikulum dapat dilihat dalam tiga dimensi, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai rencana. Namun sejauh ini kurikulum Bahasa Arab pada lembaga LPTKA-BKPRMI belum dirumuskan secara spesifik, karena Bahasa Arab masih dimasukkan dalam Muatan Lokal yang pelaksanaannya harus memperhatikan pada daya dukung dari lembaga TPQ bersangkutan.
Tulisan ini dimaksudkan sebagai masukan bagi LPTKA-BKPRMI untuk menyusun kurikulum Bahasa Arab di TPQ, sebab akan sangat janggal sekali jika lembaga yang bergerak dalam pendidikan Al-Qur’an tidak memasukkan Bahasa Arab sebagai Mata Pelajaran Inti, pembelajaran Bahasa Arab seyogianya harus menjadi pendamping pembelajaran baca-tulis Al-Qur’an di TPQ.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pembina PKBM SMUMAS
Photo Waktu Wisuda PAUD 2011, Ust. Mujtahidin, S.Ag, MSI